Jakarta, 20 November 2025 –  LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute) kembali menghadirkan momentum bersejarah melalui penyelenggaraan Wisuda LSPR Graduation Class of 2025 pada tanggal 20 November 2025 di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place. 

Tahun ini, LSPR meluluskan 1.332 wisudawan dari berbagai program studi sebuah pencapaian yang mencerminkan pertumbuhan akademik yang konsisten dan kualitas pendidikan yang terus ditingkatkan. 

Tidak hanya itu, LSPR Institute juga mengumumkan deretan kerja sama global baru yang semakin memperluas jangkauan akademik, seperti Woosong University, Futurebound, UCL dan University Holloway klmembuka akses kolaborasi internasional, dan memperkuat posisinya sebagai institusi komunikasi dan bisnis berkelas dunia.

Namun, bukan hanya angka dan kemitraan internasional yang menjadi sorotan. Dua sosok alumni inspiratif turut hadir dan menorehkan kebanggaan: Ria Sukmawijaya (Ria SW) yang telah menjadi figur penting dalam industri kreatif Indonesia, serta Ratrie Tathia, M.I.Kom, seorang pemimpin komunikasi pemasaran di kancah hospitality internasional. 

Keduanya adalah bukti nyata bagaimana lulusan LSPR Institute mampu menembus batas-batas industri dan menghadirkan dampak global.

Di tengah suasana penuh optimisme itu, Graduation Ceremony Class of 2025 LSPR Institute of Communication and Business di Ritz-Carlton Jakarta hari ini bukan sekadar seremoni kelulusan. 

Hari itu berubah menjadi ruang refleksi tentang masa depan Indonesia dan Asia Tenggara melalui paparan Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI (2011–2014), Kepala BKPM (2009–2012), wirausahawan, investor, dan produser. 

Dalam pesannya yang jernih dan penuh kesadaran geopolitik, Gita memperkenalkan sebuah konsep yang ia tekankan berulang kali: “the new community multipliers.”

Ia memulai dengan melukiskan konteks besar Asia Tenggara: kawasan dengan 700 juta jiwa dan nilai ekonomi sekitar US$4 triliun. Meski dihuni keragaman agama, etnis, dan budaya yang begitu luas, kawasan ini relatif damai selama dua ribu tahun terakhir. 

Inilah, menurut Gita, modal fundamental generasi muda Indonesia. Namun ia segera menambahkan bahwa modal saja tidak cukup. 

Yang dibutuhkan adalah kemampuan membangun narasi. “Kita ini kurang bisa bercerita. Kurang bisa berkomunikasi,” tegasnya saat membahas minimnya publikasi tentang Asia Tenggara yang hanya 0,27% dari total publikasi dunia.

Bagi Gita, rendahnya kemampuan bercerita itu bukan persoalan remeh. Ia menjelaskan bahwa perdagangan antar-negara ASEAN hanya 23% dari total ekonomi kawasan, jauh di bawah Uni Eropa yang mencapai 60–65%. 

Menurutnya, “Kita banyak bersalaman, tapi kita tidak cukup bercerita. Kita tidak cukup memahami apa yang harus kita tukar satu sama lain.”

Kalimat ini bukan sekadar kritik, tetapi seruan agar generasi baru mengambil peran dalam memperbaiki komunikasi lintas bangsa.

Namun Gita tidak berhenti pada komunikasi sebagai retorika. Ia menekankan bahwa kemampuan bercerita harus seimbang dengan kemampuan bernalar, menghitung, dan memahami angka. 

Dunia sedang menghadapi percepatan perubahan: krisis iklim, tekanan geopolitik, transisi energi, hingga kompetisi ekonomi yang semakin keras. Ia mengingatkan bahwa kebutuhan energi Indonesia hanya 1.300 kWh per kapita; jauh dari 6.000 kWh yang dibutuhkan agar Indonesia bisa menjadi negara modern. 

Untuk mengejar ketertinggalan itu, diperlukan pembangunan energi setara 400.000 MW dengan nilai investasi sekitar US$1 triliun.

Lalu ia berkata dengan nada yang menggugah: “Untuk mendatangkan modal sebanyak itu, Indonesia needs a lot of storytellers.”

Menurutnya, storytelling bukan sekadar keahlian akademis, melainkan kemampuan strategis yang dapat mengubah reputasi bangsa.

 Ia menjelaskan bahwa seorang komunikator sejati tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi menerjemahkan kompleksitas. “You need to be not only the communicator. You need to be the translator,” ujarnya. 

Menerjemahkan ketidakpastian menjadi sesuatu yang dapat diukur, dipahami, dan dipercaya itulah inti peran pencerita era baru.

Di bagian inilah Gita memperkenalkan istilah “the new community multipliers.”

Ia menggambarkan lulusan perguruan tinggi sebagai pengganda kapasitas sosial. Mereka bukan sekadar individu yang menapaki karier pribadi, tetapi aktor perubahan yang bertugas mengalirkan pengetahuan ke komunitas yang lebih luas.

Ia memaparkan fakta bahwa 88% kepala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki pendidikan S1. Dengan data ini, ia membunyikan alarm tanggung jawab moral: “Recognize that privilege. Recognize that honor. Recognize that gift.”

Dengan kata lain, pendidikan membawa kehormatan, tetapi juga kewajiban untuk memperluas dampak sosial. Karena itulah ia menegaskan bahwa guru adalah pengganda kapasitas paling efektif. Seorang guru dapat membentuk puluhan, bahkan ratusan pikiran muda. 

Maka, para lulusan diminta untuk mengambil nilai-nilai seorang guru: kesabaran, kecermatan, dan kemampuan membangun proses belajar. “You are the new community multipliers. You are the new teachers,” ujarnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga berbicara tentang tantangan teknologi. Model AI modern seperti ChatGPT, Grok, atau DeepSeek mengonsumsi energi hingga 10–50 kali lipat dari pencarian Google biasa. Bagi Indonesia yang elektrifikasinya masih rendah, ini adalah peringatan tentang masa depan teknologi dan kebutuhan energi yang jauh lebih besar. 

Namun di sini pula ia menanamkan harapan. “I honestly believe you will be the necessary translators…bringing about the necessary technology, bringing about the necessary capital,” katanya. Dengan kata lain, generasi inilah yang akan menerjemahkan dunia baru itu ke dalam peluang bagi Indonesia.

Pesan Gita mencapai puncaknya ketika ia menjelaskan evolusi peran seorang lulusan komunikasi. “Once you become a translator, you can become a multiplier. Once you become a multiplier, you can become a builder a builder of nations.”

Inilah inti dari seluruh gagasannya: bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh para ekonom, teknolog, atau birokrat, tetapi oleh para pencerita yang mampu mengubah narasi bangsa.

LSPR Class of 2025, dengan seluruh bekal keilmuan dan nilai yang ditanamkan, diundang untuk mengambil peran itu. Untuk menjadi penghubung antara angka dan makna, antara peluang dan kepercayaan, antara kompleksitas global dan kebutuhan masyarakat. 

Anda adalah generasi yang diharapkan mengangkat kualitas komunikasi bangsa, memperkuat daya saing Indonesia, dan membangun narasi baru Asia Tenggara.

Dan seperti yang ditutup Gita dengan keyakinan penuh, masa depan itu menunggu untuk Anda gandakan. Anda adalah  the new community multipliers.