Setelah sukses menggelar aksi penanaman mangrove dan beach clean-up, rangkaian program Ecomove oleh HIMA LSPR Bali kembali melanjutkan misi lingkungannya melalui seri ketiga bertajuk “Ecomove #3: Eco-Talks & Creative Lab”. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli 2026 ini diselenggarakan di Dharma Negara Alaya, Denpasar, dengan mengangkat isu pengelolaan limbah organik dan gaya hidup berkelanjutan. Acara ini menghadirkan tiga pembicara inspiratif, yaitu Melati Wijsen, Founder of Youthopia; I Wayan Sastrawan, Founder of Kedas Lebih Asik; dan Amelia Angelika, Product Designer Sayang powered by Wedoo.

Talkshow bertema “Can Gen-Z Actually Save The Planet?” dibuka oleh Melati Wijsen yang membahas peran generasi muda dalam menghadapi krisis lingkungan. Menurutnya, Gen Z dapat berkontribusi menjaga bumi, begitu pula semua generasi. Namun, Gen Z masih sering mendapat label sebagai slacktivist, yaitu aktif menyuarakan isu lingkungan di media sosial tanpa diikuti aksi nyata. Karena itu, Melati menekankan pentingnya menghadirkan program lingkungan yang menarik dan mudah diikuti agar generasi muda terdorong untuk terlibat secara langsung.


Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR Bali

Seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, istilah eco-anxiety juga semakin sering muncul, yaitu kecemasan akibat besarnya permasalahan lingkungan. Menanggapi fenomena ini, Melati mengajak masyarakat untuk lebih berfokus pada solusi daripada terus memikirkan masalah. Diskusi dilanjutkan oleh Amelia Angelika yang menjelaskan konsep ekonomi sirkular. Berbeda dengan praktek daur ulang biasa, ekonomi sirkular menerapkan sistem yang terus berputar sehingga material tidak langsung menjadi sampah. Prosesnya dimulai dari pemilahan limbah, kemudian diolah menjadi material baru yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai. Melalui Wedoo, Amelia menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.

Sesi terakhir diisi oleh I Wayan Sastrawan atau akrab disapa Kak Ayin yang mengajak peserta menerapkan gaya hidup minim sampah melalui praktek sederhana di rumah. Ia memperkenalkan biopori, yaitu lubang resapan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos, serta teba modern, pengembangan biopori dengan kapasitas lebih besar untuk mengolah limbah rumah tangga. Kak Ayin juga mengenalkan eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi limbah organik berupa kulit buah dan sayuran dengan perbandingan 1:3:10 (gula atau molase, limbah organik, dan air). Cairan ini memiliki berbagai manfaat, mulai dari pupuk alami, penghilang bau, hingga pembersih rumah tangga.


Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR Bali

Usai talkshow, peserta mengikuti workshop pembuatan eco-enzyme dan sabun berbahan dasar eco-enzyme. Pada praktek pembuatan eco-enzyme, peserta mencampurkan molase, air, dan limbah organik ke dalam drum untuk difermentasikan selama tiga bulan. Sementara itu, pada sesi pembuatan sabun, peserta mencampurkan larutan Methyl Ester Sulfonate (MES) dengan cairan eco-enzyme yang telah difermentasi hingga menjadi sabun ramah lingkungan yang siap digunakan.

Melalui kegiatan “ECOMOVE #3: Eco-Talks & Creative Lab”, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan limbah organik, tetapi juga mempraktekkannya secara langsung. Harapannya, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk mulai mengolah sampah organik dan membuat eco-enzyme di rumah sebagai langkah sederhana menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

 

Artikel ditulis oleh Jihan Nabiilah Akna Ilmi