
Jakarta, 4 Juli 2026 – Departemen Kajian Strategis BEM LSPR kembali menghadirkan KASTA-LOUGE: F.I.R.M. (Forum, Isu, Remedi & Mahasiswa) melalui episode kedua yang mengusung tema “Mahasiswa, Pola Pikir, dan Tanggung Jawab di Ruang Publik.” Episode kali ini dipandu oleh Mahdy Ari Sadhono sebagai Host dan menghadirkan Mr. Deddy Irwandy, S.Sos., M.Si., Dosen LSPR Institute of Communication and Business, sebagai narasumber. Melalui diskusi yang komunikatif dan reflektif, keduanya mengajak mahasiswa memahami pentingnya membangun growth mindset, menyikapi kritik dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, serta menjalankan peran sebagai mahasiswa yang bertanggung jawab di lingkungan kampus maupun ruang publik.
Salah satu pembahasan utama dalam episode ini adalah mengenai perbedaan antara fixed mindset dan growth mindset. Mahasiswa diajak memahami bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, melainkan dapat terus berkembang melalui proses belajar, pengalaman, dan keberanian untuk mencoba. Dalam dunia perkuliahan, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi menjadi bagian dari proses yang membantu seseorang bertumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Selain itu, diskusi juga membahas bagaimana mahasiswa memandang kritik dan kegagalan. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap kritik sebagai bentuk penilaian negatif terhadap dirinya. Namun, jika diterima dengan pola pikir yang terbuka, kritik justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki diri. Cara seseorang merespons kritik sering kali mencerminkan bagaimana pola pikir yang dimilikinya.
Topik lain yang turut dibahas adalah fenomena mahasiswa kupu-kupu (kuliah–pulang) dan mahasiswa kura-kura (kuliah–rapat) yang kerap menjadi perbincangan di lingkungan kampus. Melalui diskusi ini, ditekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki pilihan dan prioritas yang berbeda. Tidak ada satu pilihan yang sepenuhnya benar atau salah, selama setiap individu mampu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan tetap berupaya mengembangkan potensi dirinya. Perbedaan pilihan tersebut seharusnya menjadi bentuk keberagaman pengalaman mahasiswa, bukan sebagai alasan untuk saling memberikan stigma.
Pembahasan kemudian berlanjut pada pengaruh lingkungan kampus dan organisasi dalam membentuk karakter serta pola pikir mahasiswa. Lingkungan yang positif dapat menjadi ruang untuk belajar berkomunikasi, berkolaborasi, dan menghadapi berbagai tantangan. Namun, pada akhirnya perkembangan seseorang tetap bergantung pada kemauan pribadi untuk terus belajar, terbuka terhadap pengalaman baru, dan berani keluar dari zona nyaman.
Episode ini juga mengajak mahasiswa untuk merefleksikan tujuan mereka dalam menempuh pendidikan tinggi. Kuliah tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun karakter, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan di masa depan. Semangat belajar yang konsisten, serta keberanian untuk terus berkembang, menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menjalankan perannya di ruang publik.
Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Mr. Deddy Irwandy, S.Sos., M.Si., bahwa “Target untuk mendapatkan ijazah dan transkrip dengan nilai-nilai yang bagus itu tidak salah. Tetapi yang terpenting adalah bukan ijazahnya, melainkan bagaimana angka-angka dan statement-statement yang ada di sana mampu kita refleksikan. Itu yang jauh lebih penting.” Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan selama masa perkuliahan tidak hanya diukur dari nilai yang tercantum pada transkrip, tetapi juga dari bagaimana ilmu, pengalaman, serta proses pembelajaran mampu membentuk karakter dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui KASTA-LOUGE: F.I.R.M. Episode 2, Departemen Kajian Strategis BEM LSPR berharap mahasiswa semakin menyadari pentingnya membangun growth mindset, berani menghadapi kritik dan kegagalan, serta mampu mengambil tanggung jawab atas setiap pilihan yang dibuat. Diskusi ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mengembangkan pola pikir yang terbuka, karakter yang kuat, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi individu yang kritis, adaptif, dan memberikan kontribusi positif bagi kampus maupun masyarakat.







