ALUMNI LSPR DAN PERUSAHAAN GLOBAL

Peran Public Relations (PR) dalam perusahaan global sering kali tidak terlihat dari luar, namun dampaknya sangat terasa. Ia bekerja senyap, tetapi menentukan.  Di balik reputasi sebuah merek internasional, kepercayaan publik, hingga keberlangsungan bisnis lintas negara, hampir selalu ada strategi komunikasi yang matang dan manusiawi.  PR bukan sekadar fungsi pendukung, melainkan salah satu fondasi penting yang menjaga perusahaan tetap relevan, dipercaya, dan berkelanjutan di tengah dunia yang terus berubah. Kisah Audrey Progastama Petriny yang disampaikan saat acara wisuda tahun 2019 menjadi gambaran nyata tentang hal tersebut. Perjalanannya di dunia PR global tidak dimulai dari latar belakang komunikasi. Ia datang dari dunia bisnis internasional, perbankan, dan pemasaran.  Di titik itu, PR terasa bukan lagi soal profesi, tapi soal bertahan sebagai manusia di tengah tekanan. Ketika pertama kali dipercaya masuk ke dunia kehumasan di perusahaan penerbangan berskala internasional, Audrey mengaku belum benar-benar memahami apa itu Public Relations. Namun justru di situlah esensi PR terlihat: kemampuan belajar, beradaptasi, dan memahami manusia. Ia memimpin strategi Public Relations lintas negara, dikenal berani keluar dari zona nyaman, menggabungkan pengalaman bisnis, kepemimpinan, dan komunikasi strategis secara manusiawi, serta komitmen kuat pada integritas dan pembelajaran berkelanjutan.

Audrey Progastama Petriny adalah alumni pascasarjana LSPR, yang berkarier di perusahaan global. Tahun 2025 dia menjabat Head of Corporate Affairs GoPay. Saat kuliah di S2 di LSPR, dia bekerja di AirAsia sebagai Communications Manager.  “Sebelum di Air Asia saya sempat bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang olahraga,” katanya. Di perusahaan ini, Audrey bertemu petinggi Air Asia di Indonesia. “Beliau bilang kepada saya, Audrey saya melihat kamu ini punya potensi untuk menjadi humas dan sayang jika tidak diasah. Lalu kemudian beliau bilang Air Asia kebetulan sedang mencari Humas dan beliau mendorong saya untuk mencoba.” Di perusahaan global, PR dituntut untuk berpikir lintas budaya dan lintas kepentingan. Tantangan yang dihadapi tidak lagi bersifat lokal. Satu keputusan komunikasi bisa berdampak ke banyak negara dengan karakter publik yang berbeda.

Audrey mengalami ini secara langsung ketika harus membangun fungsi komunikasi dari nol, tanpa tim, tanpa pengalaman formal di bidang PR. Ia belajar membuat siaran pers, menjalin hubungan dengan media, menangani isu, hingga menjadi wajah perusahaan di berbagai kesempatan. Semua dilakukan sambil terus bertanya, belajar, dan memperbaiki diri. Kesadaran bahwa PR tidak bisa dijalankan hanya dengan intuisi dan kerja keras semata mendorong Audrey untuk memperkuat dirinya melalui pendidikan. Di sinilah peran LSPR menjadi sangat penting.  LSPR tidak hanya memberikan pemahaman teori komunikasi, tetapi juga membentuk cara berpikir strategis. Pendidikan di LSPR membantu Audrey melihat PR bukan lagi sebagai aktivitas teknis, melainkan sebagai fungsi strategis yang terhubung langsung dengan visi bisnis, manajemen risiko, dan reputasi jangka panjang. Di ruang kelas, Audrey belajar menyusun strategi komunikasi yang terstruktur, membaca situasi krisis dengan lebih tajam, dan memahami peran PR sebagai penasehat manajemen. Hal-hal inilah yang kemudian ia bawa ke dalam praktik nyata.  Hasilnya terasa jelas. Ia tumbuh dari seorang Communications Manager menjadi pemimpin komunikasi, hingga akhirnya dipercaya memimpin tim komunikasi global di belasan negara dengan latar budaya yang sangat beragam. Di level global, PR berperan sebagai penjaga konsistensi nilai perusahaan. Ia memastikan bahwa pesan yang disampaikan di berbagai negara tetap selaras, namun relevan secara lokal. PR juga menjadi garda terdepan dalam menjaga kepercayaan publik, terutama di saat krisis.  Pengalaman Audrey memimpin tim lintas negara menunjukkan bahwa PR bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan memahami kekhawatiran publik, menghormati perbedaan, dan merespons dengan empati.

LSPR berperan besar dalam membentuk kesiapan mental dan profesional tersebut. Pendidikan yang menekankan keseimbangan antara teori dan praktik membuat lulusannya tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap memimpin.  Dalam konteks perusahaan global, hal ini menjadi keunggulan yang sangat penting. PR dituntut untuk tidak reaktif, melainkan visioner. Tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi membangun makna. Kisah Audrey juga menunjukkan bahwa PR adalah profesi yang sangat manusiawi. Ia dijalani di tengah tekanan, keterbatasan waktu, bahkan di tengah peran sebagai ibu dan profesional. Namun justru dari situ lahir ketangguhan. PR mengajarkan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman, kemauan untuk terus belajar, dan integritas dalam berkomunikasi akan membuka jalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Pada akhirnya, peran Public Relations dalam perusahaan global bukan hanya tentang menjaga citra, tetapi tentang membangun kepercayaan lintas batas. Dan pendidikan seperti yang diberikan oleh LSPR membuktikan bahwa ketika ilmu, pengalaman, dan tekad bertemu, PR mampu menjadi kekuatan strategis yang membawa individu dan perusahaan melangkah ke panggung dunia dengan kepala tegak dan hati yang jujur.