Fahad tidak pernah membayangkan bahwa ketertarikannya pada cara seseorang mengekspresikan diri melalui pakaian akan membawanya hingga ke New York Fashion Week. Sejak kecil, ia menikmati mengamati perpaduan warna, gaya berpakaian, dan bagaimana setiap penampilan mampu menyampaikan karakter serta cerita yang berbeda. Tanpa disadari, ketertarikan itu menjadi awal dari pemahamannya bahwa fesyen bukan sekadar tentang pakaian.

Ia senang melihat ibunya menggambar desain pakaian, membeli kain, lalu membawanya ke penjahit langganan. Tanpa disadari, ia sedang belajar bahwa sehelai pakaian bukan sekadar benda yang dikenakan, melainkan cara seseorang mengekspresikan dirinya.

Ketika mulai beranjak dewasa, pertanyaan yang paling sering ia dengar terdengar sangat logis. “Kalau suka fesyen, kenapa tidak sekolah fesyen?” Pertanyaan itu mungkin juga pernah dialami banyak anak muda yang memilih jalan berbeda dari ekspektasi orang-orang di sekitarnya.

Fahad justru memilih LSPR. Karena Fashion is about communication. Keputusan itu bukan jalan memutar menuju dunia fesyen, melainkan jalan yang memperluas cara pandangnya tentang komunikasi. Baginya, fesyen bukan hanya soal desain atau tren, tetapi tentang bagaimana seseorang menyampaikan pesan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.

“No matter how far I go, I always meet LSPR alumni.”

Di kampus itulah ia menemukan komunitas yang membuat mimpinya terasa mungkin. Melalui LSPR Modeling, ia belajar tentang styling, modeling, beauty, dan yang lebih penting, belajar percaya pada kemampuannya sendiri. Banyak mahasiswa menganggap organisasi hanya sebagai kegiatan tambahan, tetapi bagi Fahad, komunitas justru menjadi ruang belajar yang sesungguhnya.

Salah satu peristiwa yang mengubah hidupnya terjadi di auditorium LSPR. Di sanalah ia bertemu Barli Asmara, desainer yang tidak hanya dikenal karena karya-karyanya, tetapi juga karena kemurahan hatinya membimbing generasi muda. Pertemuan itu menjadi pengingat bahwa seorang mentor kadang mampu melihat potensi yang bahkan belum kita sadari.

Barli pernah berkata, suatu hari nanti ia ingin mengajak Fahad ke New York Fashion Week. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat seorang mahasiswa percaya bahwa mimpinya tidak terlalu tinggi untuk dikejar. Sayangnya, kehidupan memiliki rencana lain. Barli Asmara berpulang sebelum janji itu sempat diwujudkan.

Banyak orang mungkin akan menganggap cerita itu berakhir di sana. Fahad justru memilih melanjutkannya sendiri. Beberapa tahun kemudian, ia benar-benar menginjakkan kaki di New York, bekerja sebagai fashion stylist di balik panggung berbagai merek internasional, dan menyaksikan dunia yang dahulu hanya ia lihat dari layar komputer.

Perjalanan itu mengajarkan satu hal yang menarik. Mimpi tidak selalu datang melalui orang yang pernah menjanjikannya. Kadang, mimpi datang karena kita tetap berjalan, bahkan ketika orang yang menginspirasi kita sudah tidak lagi menemani perjalanan.

Hidup kembali memberi kejutan ketika Fahad mendapat kesempatan terlibat dalam produksi film Monkey Man karya Dev Patel. Ia tidak pernah belajar di sekolah akting. Ia juga tidak pernah menyangka bahwa pengalaman menjadi guru bantu seni pertunjukan semasa kuliah akan menjadi bekal untuk memasuki dunia perfilman Hollywood.

Di sinilah letak pelajaran terbesar dari perjalanan Fahad. Kesuksesannya bukan dibangun oleh satu keputusan besar, melainkan oleh serangkaian keputusan kecil yang terus ia jalani dengan konsisten. Bermain dress-up, bergabung dengan komunitas, menerima kesempatan mengajar, hingga berani mencoba hal-hal baru, semuanya tampak biasa ketika dijalani. Namun ketika dirangkai ke belakang, semuanya membentuk cerita yang luar biasa.

Ketika bercerita di depan alumni LSPR yang lain, Fahad mengatakan bahwa jika sesuatu memang ditakdirkan untuk kita, maka ia akan datang pada waktu, tempat, dan bersama orang yang tepat. Kalimat itu bukan ajakan untuk pasrah menunggu nasib. Sebaliknya, itu adalah ajakan untuk terus mempersiapkan diri agar siap ketika kesempatan akhirnya datang.

Barangkali itulah makna pendidikan yang sesungguhnya. Kampus tidak selalu menunjukkan ke mana kita harus pergi, tetapi membekali kita agar mampu melangkah ke mana pun kehidupan membawa.

Dan mungkin, perjalanan Fahad mengajarkan satu hal yang paling sederhana. Jangan pernah menertawakan hobi seorang anak. Bisa jadi, dari permainan yang terlihat sepele itulah lahir mimpi yang suatu hari akan berdiri di panggung dunia.

 

LIMA INSPIRASI DARI FAHAD 

Perjalanan Fahad menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu mengikuti jalur yang sudah direncanakan. Dari kisahnya, setidaknya ada lima pelajaran penting yang dapat dipetik.

  1. Jangan Batasi Mimpi dengan Jurusan

Fahad tidak pernah berkuliah di sekolah fashion. Ia memilih komunikasi di LSPR, tetapi justru berhasil membangun karier sebagai fashion stylist hingga bekerja di New York Fashion Week dan terlibat dalam film Hollywood.

  1. Hobi Masa Kecil Bisa Menjadi Panggilan Hidup

Ketertarikannya pada fashion berawal dari hal-hal sederhana: melihat ibunya mendesain pakaian. Pengalaman masa kecil itu membentuk kreativitas yang kemudian menjadi profesinya.

  1. Komunitas yang Tepat Mengubah Masa Depan

Di LSPR, Fahad menemukan komunitas LSPR Modeling yang memberinya ruang untuk belajar styling, modeling, dan membangun kepercayaan diri. Dari komunitas inilah ia bertemu mentor dan memperluas jejaring profesionalnya.

  1. Tidak Semua Mimpi Datang Sesuai Rencana

Janji Barli Asmara untuk mengajaknya ke New York tidak pernah terwujud. Namun beberapa tahun kemudian, Fahad benar-benar mencapai New York melalui jalannya sendiri. Terkadang Tuhan mengubah rute, bukan tujuan.

  1. Terus Hadir dan Percaya pada Proses

Pesan Fahad sederhana tetapi kuat: “Wake up, get up, dress up, show up.” Kesempatan tidak datang kepada orang yang hanya menunggu, tetapi kepada mereka yang terus belajar, terus mempersiapkan diri, dan berani menunjukkan kemampuan ketika peluang datang.