Jakarta, 4 Agustus 2026 – Tiga mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute) mengikuti 2026 “Zhi & Xing Guizhou” Silk Road Youth Exchange Program, sebuah program pertukaran pemuda internasional yang memperkenalkan penerapan artificial intelligence (AI), big data, dan smart tourism kepada mahasiswa dari Indonesia di Provinsi Guizhou, Tiongkok.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Grisellda Andreina dan Ayu Sabrina Anshari dari Fakultas Komunikasi, serta Syafiyah Zahara Athaya dari Fakultas Bisnis. Mereka mengikuti program yang diselenggarakan oleh Guizhou Vocational College of Economics and Business (GVCEB) dalam rangka China–ASEAN Education Cooperation Week 2026 pada 26 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Selama sepekan, para peserta mengikuti pembelajaran yang menggabungkan aspek teknologi, budaya, dan inovasi melalui pendekatan learning beyond the classroom. Mereka mempelajari penerapan AI dan big data dalam berbagai sektor, mengenal sistem pengelolaan destinasi wisata berbasis teknologi (smart tourism), mengikuti pembelajaran dasar bahasa Mandarin, serta mengunjungi proyek rekayasa jembatan modern dan berbagai situs budaya di Guizhou.

Rektor LSPR Institute of Communication and Business, Associate Professor Dr. Andre Ikhsano, M.Si., mengatakan bahwa pengalaman internasional menjadi bagian penting dalam membekali mahasiswa untuk menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

“Keikutsertaan mahasiswa kami dalam program ini merupakan wujud komitmen LSPR untuk menghadirkan pengalaman belajar bertaraf internasional. Di era transformasi digital, mahasiswa perlu memahami bagaimana teknologi seperti AI dan big data diterapkan secara nyata tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya. Pengalaman ini diharapkan membentuk wawasan global sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya,” ujar Dr. Andre.

Salah satu peserta, Grisellda Andreina, mengatakan bahwa program tersebut memberikan pengalaman baru dalam melihat penerapan teknologi di berbagai sektor.

“Kami melihat secara langsung bagaimana AI dan big data dimanfaatkan dalam pengelolaan smart tourism sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal, kata Grisellda.

Sementara itu, Syafiyah Zahara Athaya menilai pendekatan teknologi yang diterapkan pada industri lokal menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan.

“Menarik melihat bagaimana digitalisasi diterapkan pada industri teh Maojian di Kota Duyun. Teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, namun tetap mempertahankan identitas dan nilai budaya yang menjadi kekuatan produk lokal,” ujarnya.

Selain mengikuti sesi akademik, para peserta juga mengeksplorasi warisan budaya di Beijing dan di Guizhou, serta mempelajari bagaimana inovasi teknologi dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian budaya.

Program bertema “Cognition, Experience, Feeling, Dissemination” tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan pertukaran budaya antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN. Melalui pengalaman belajar langsung, peserta diharapkan dapat memperluas perspektif global sekaligus membangun jejaring internasional di kalangan generasi muda.

Guizhou Vocational College of Economics and Business telah menjadi tuan rumah China – ASEAN Education Cooperation Week selama enam tahun berturut-turut sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi pendidikan dan pertukaran pemuda di kawasan.