Bali, 19 April 2026 – Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, Komunitas Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) LSPR Bali melaksanakan Tirta Yatra ke Pura Ulun Danu Batur dan Pura Agung Besakih. Kegiatan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk dapat beristirahat sejenak dari rutinitas perkuliahan serta mengembalikan fokus, sekaligus memperkuat spiritualitas dan kebersamaan antar mahasiswa. 

Tirta Yatra ini dilaksanakan bertepatan dengan berlangsungnya Upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, salah satu upacara sakral bagi umat Hindu di Bali. Momen ini sangat istimewa, karena dipercaya para manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa hadir, menerima bhakti dan persembahan dari para umatnya. Pura Agung Besakih dikenal sebagai pura terbesar di Bali. Terletak di lereng Gunung Agung, pura ini dijuluki sebagai “Mother Temple” karena menjadi pusat spiritual utama bagi umat Hindu di Bali, dengan Pura Penataran Agung sebagai pusat utamanya.


Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR Bali

Sebelum menuju Besakih, rombongan terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Ulun Danu Batur, Kintamani. Pura ini merupakan salah satu pura penting di Bali yang didedikasikan untuk Dewi Danu sebagai Dewi Mata Air, dan Danau Batur sebagai sumber kehidupan masyarakat, khususnya dalam sistem pertanian dan irigasi di Bali. Pura Ulun Danu Batur juga dikenal sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan harmoni pulau Bali.

Bagi mahasiswa, perjalanan Tirta Yatra bukan hanya sekadar kegiatan religi, tetapi juga menjadi ruang refleksi di tengah padatnya aktivitas perkuliahan. Ni Putu Liliawati, staf LSPR Bali, menyampaikan bahwa kegiatan ini membantu mahasiswa menjaga keseimbangan antara dunia perkuliahan dan kehidupan spiritual. “Tentunya kegiatan Tirta Yatra ke Besakih yang dilaksanakan oleh mahasiswa KMHD sangat berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara perkuliahan dan juga kegiatan spiritual, dimana kegiatan ini memberikan kita ruang untuk berhenti sejenak dan kembali fokus tentunya dari perkuliahan yang ada,” ujarnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR Bali

 

Selain menjadi perjalanan spiritual, Tirta Yatra ini juga mempererat hubungan antaranggota KMHD LSPR Bali. Mirah Premaswari, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa dirinya mengikuti kegiatan ini karena ingin membangun kebersamaan dengan teman-teman KMHD. “Kalau dari aku sendiri, alasan aku ingin ikut kegiatan ini yang pasti aku ingin lebih meningkatkan kebersamaan bersama anak-anak KMHD LSPR Bali,” ungkapnya. Hal serupa juga dirasakan oleh Tri Utari. Menurutnya, suasana perjalanan yang santai dan penuh kebersamaan membuat pengalaman Tirta Yatra terasa lebih berkesan. 

Sebagai kegiatan Tirta Yatra pertama yang dilaksanakan oleh LSPR Bali, kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Bukan hanya tentang perjalanan menuju tempat suci, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa belajar memberi ruang untuk diri sendiri, memperkuat iman, dan menciptakan kenangan bersama di tengah perjalanan akademik mereka.

 

Artikel ditulis oleh Luh Ayu Dinda Cahyaning Sukma