Bogor, 7 Juni 2026 – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business meluncurkan program Pengembangan Masyarakat bernama SRAYA (Sampah Rumah Tangga Berdaya), pada Sabtu, 6 Juni 2026. Bertempat di Titik Nol Adventure Camp, RW 2 Desa Tajurhalang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pelatihan awal ini sukses mengumpulkan perangkat desa, kader Kampung Ramah Lingkungan (KRL) River Valley, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, serta 40 warga setempat untuk mengatasi masalah volume sampah rumah tangga melalui aksi nyata yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan ini, warga dibekali dengan edukasi praktis memilah sampah langsung dari dapur rumah dan dilatih mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos yang memiliki nilai ekonomis. Tidak hanya sekadar pelatihan teori, program SRAYA juga melakukan langkah konkret dengan membangun prasarana berupa infrastruktur titik kumpul sampah organik komunal. Fasilitas ini didirikan guna menjamin aktivitas pemilahan dan penyaluran sampah organik warga dapat berjalan secara rutin, terorganisir, dan mandiri dalam jangka panjang.

Penyambung Lingkungan Hidup Kecamatan Cijeruk, Joise Ursua, menyampaikan apresiasinya kepada pelaksana acara. “Sekarang warga sudah lebih mengerti bedanya sampah organik dan anorganik, bahkan tau cara mengelolanya lebih baik lagi.” Ungkap perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Jojo ini.

Program SRAYA diharapkan dapat menanamkan kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah yang tepat dapat membawa berkah ekonomi sekaligus menjaga ekosistem. Melalui intervensi ini, masyarakat Desa Tajurhalang mendapatkan dampak langsung berupa lingkungan pemukiman yang lebih bersih, sehat, bebas dari penumpukan limbah berbahaya, terlepas dari kebiasaan membakar sampah yang berbahaya untuk kesehatan sekaligus peluang mendapatkan pendapatan tambahan dari hasil produksi kompos. Gerakan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action).

Ketua Kampung Ramah Lingkungan, Diah Wulandari, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap antusiasme peserta dan inisiatif penyelenggara. “Acara luar biasa ini dapat meng-influence pemuda- pemudi menjadi lebih peduli dengan lingkungan, sehingga dampaknya dapat diwariskan ke anak cucu kita nanti,” sembari memuji ketertarikan warga yang hadir. “Satu kata untuk menggambarkan hari ini: amazing. Betul-betul berbagi amal nih,” tutupnya.

 

Sebelum terjun ke lapangan, konsep kampanye kreatif SRAYA telah diuji dalam skema International Exam di hadapan Mr. Hans De Nie dari Breda University of Applied Sciences, Belanda, bersaing dengan 17 kelompok lainnya. Pada malam apresiasi, SRAYA menorehkan prestasi gemilang sebagai satu-satunya tim yang memboyong predikat ganda, yaitu 1st Runner Up of The Best Presentation dan 1st Runner Up of The Best Paper. Sinergi kokoh antara akademisi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal ini diharapkan mampu menjadikan Desa Tajurhalang sebagai pelopor desa pelestari lingkungan yang mandiri dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bogor. Langkah awal ini ditargetkan menjadi cetak biru yang dapat direplikasi oleh dusun-dusun lainnya.