Pada 14 April 2026, London School of Public Relations (LSPR) kembali menghadirkan forum internasional melalui kegiatan ECU Nexus, hasil kolaborasi dengan Edith Cowan University (ECU), Australia. Acara ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemitraan global sekaligus membuka wawasan mahasiswa terhadap peluang pendidikan dan perkembangan teknologi di era kecerdasan buatan (AI).

Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari Founder LSPR, Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, MBA., MCIPR., APR., FIPR, yang menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin antara LSPR dan ECU. Dalam sambutannya, beliau juga menyoroti berbagai program kolaborasi yang telah berjalan, termasuk pertukaran pelajar sebagai bagian dari penguatan pengalaman global mahasiswa.


Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Sesi berikutnya memperkenalkan Western Australia sebagai destinasi studi yang strategis, khususnya kota Perth. Kota ini dinilai memiliki keunggulan dari sisi konektivitas global, peluang investasi dan perdagangan, serta kualitas hidup yang kompetitif. Program migrasi yang didukung pemerintah juga menjadi nilai tambah bagi mahasiswa internasional yang ingin mengembangkan karier di Australia.

Dalam sesi perkenalan, ECU dipaparkan sebagai institusi pendidikan dengan lebih dari 250 program studi, tiga kampus utama, serta lebih dari 30.000 mahasiswa, termasuk sekitar 6.000 mahasiswa internasional dari lebih dari 100 negara. Bidang unggulan yang ditawarkan mencakup performing arts, creative industries, business and law, hingga teknologi.

Selain itu, ECU juga membuka peluang beasiswa hingga 20%, yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi mahasiswa internasional. Melalui School of Business and Law, ECU menunjukkan capaian akademik yang signifikan, di mana riset para akademisinya diakui masuk dalam top 2% ilmuwan dunia. Program yang ditawarkan antara lain Master of Business Analytics, Master of International Hospitality Management, Master of Project Management, dan Master of Professional Accounting.

Sementara itu, School of Arts and Humanities menyoroti pentingnya memahami wicked problems, yaitu permasalahan kompleks global yang membutuhkan pendekatan kreatif dan multidisipliner. Dalam konteks ini, kreativitas dipandang sebagai kompetensi inti yang harus dikembangkan mahasiswa, sejalan dengan konsep creating minds dari Howard Gardner.

 Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Salah satu highlight utama dalam kegiatan ini adalah pembahasan mengenai peran AI dalam dunia pendidikan dan industri. Peserta diperkenalkan pada empat pilar utama dalam menghadapi era AI, yaitu:

  • Digital Foundation: memahami nilai, keterbatasan, dan risiko dari teknologi AI
  • Digital Mindset: kemampuan memecah masalah kompleks menjadi alur kerja yang logis
  • Demonstrating Value: kemampuan menghadirkan perspektif baru dan proaktif dalam menciptakan solusi
  • Entrepreneurial Thinking: memahami cara organisasi menciptakan nilai serta meningkatkan efisiensi

Pendekatan ini menekankan pentingnya budaya “try and fail fast” sebagai strategi adaptif di era digital.

Dalam praktiknya, AI juga dimanfaatkan dalam berbagai aspek pembelajaran, seperti personalized learning, automated feedback, learning analytics, hingga collaborative learning environments. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membuka peluang inovasi dalam proses belajar mengajar.

Diskusi juga mengarah pada pentingnya design thinking sebagai metode problem solving yang berfokus pada empati, ideasi, dan eksperimen. Proses ini melibatkan tahapan empathise, define, ideate, prototype, hingga test, yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan solutif. Selain itu, peserta diperkenalkan pada berbagai teknik kreatif, mulai dari brainstorming, mind mapping, hingga pendekatan reflektif yang menekankan pentingnya kolaborasi dan eksplorasi ide.

Sumber: Dokumentasi Pribadi LSPR News

Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI, isu integritas akademik juga menjadi perhatian utama. Pendekatan yang disarankan meliputi transparansi dalam penggunaan AI, pemahaman mendalam terhadap proses belajar mahasiswa, serta evaluasi berbasis proses, bukan hanya hasil akhir.

Model pembelajaran seperti CARE (Collaborative AI-supported Reflective Education) turut diperkenalkan sebagai framework kolaboratif antara mahasiswa, dosen, dan AI dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan reflektif.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan pembicara, yang diikuti dengan sesi foto bersama. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat hubungan antara LSPR dan ECU, tetapi juga memberikan perspektif baru bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan global, khususnya dalam integrasi teknologi dan pengembangan kreativitas.

Melalui kegiatan seperti ECU Nexus, LSPR terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang globally connected, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

 

Artikel ditulis oleh Keisha Shelomita