Membangun engagement dengan media penting dilakukan bagi praktisi Public Relations (PR) di era digital seperti saat ini. Pasalnya, pemberitaan yang ditayangkan media mampu mempengaruhi opini publik.

Dalam konteks perusahaan, pemberitaan media dapat mempengaruhi opini publik terkait image merek maupun reputasi perusahaan. Sementara itu, dalam konteks pemerintah, maka pemberitaan media turut mempengaruhi opini publik terkait kebijakan yang dicanangkan.

Demikian diungkapkan Founder & CEO LSPR Communication and Business Institute Prita Kemal Gani, dalam acara seminar ‘Manajemen Komunikasi Media’ yang digelar Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, pada hari ini (9/9), di Jakarta. Menurutnya, untuk membangun engagement dengan media, praktisi PR harus memahami media terlebih dahulu. “Antara lain, dengan memahami kebutuhan media di era digital seperti sekarang,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan, ada empat kebutuhan utama yang dibutuhkan media. Keempat kebutuhan itu adalah informatif, kreatif, komunikatif, dan strong media bonding. Informatif artinya PR harus mampu memberikan informasi atau data terkini (up-to-date) dalam format multimedia, baik print, digital, hingga video maupun infografis. Selain itu, PR juga harus rutin meng-up date website maupun media sosial perusahaan atau instansinya, karena kanal digital ini kerapkali dijadikan media sebagai kanal untuk mencari informasi sebagai bahan penulisan.

Selain itu, media membutuhkan konten sekaligus informasi yang dikemas secara kreatif. Artinya, informasi yang disajikan kepada media dapat dikemas dalam berbagai angle penulisan. Mengingat, para jurnalis datang dari berbagai desk, seperti dari desk pendidikan, bisnis, lifestyle, dan sebagainya. Bentuk kreatif lainnya adalah dengan menawarkan wawancara eksklusif dengan petinggi di perusahaan.

“Informasi yang disajikan pun dapat menampilkan narasumber yang tidak melulu dari internal perusahaan. Misalnya, menghadirkan narasumber pakar dari luar yang sedang happening,” lanjut Prita.

Ketiga, kebutuhan media adalah komunikatif. Ditegaskan Prita, spoke person di perusahaan atau instansi, termasuk PR, harus mudah diakses atau dihubungi, pro-aktif, dan mampu membangun hubungan dua arah, seperti mau mendengar dan menerima masukan.

Terakhir, media membutuhkan strong media bonding. Artinya, PR harus mampu membangun hubungan emosional dengan media. Mulai dari meng-up-date isu atau informasi terkini; media visit; membuat pertemuan secara berkala dengan media melalui berbagai bentuk, seperti memberikan pelatihan kepada media; menggelar kegiatan outbond bersama media demi membangun kedekatan; membangun kerja sama memalui program kolaborasi dengan media; memberikan kesempatan kepada media untuk menjadi pembicara di sejumlah kegiatan internal perusahaan; hingga merespon setiap pemberitaan mereka dengan men-share berita tersebut di media sosial, sebagai wujud apresiasi.

“Bahkan, PR juga dapat membuat WhatsApp (WA) Group guna membangun hubungan yang intens dengan media. Melalui WA Group ini, PR dapat berbagi informasi terkini kepada teman-teman media. Tentu saja, agar WA Group interaktif atau komunikasinya dua arah, PR dapat membuat games atau kuis untuk teman-teman media. Selain itu, di WA Group ini, PR juga harus responsif dan cepat dalam menjawab setiap pertanyaan media,” tutup Prita. (tim)

 

sumber : https://radarbekasi.id/2020/09/09/praktisi-pr-wajib-membangun-engagement-dengan-media/