Sunrise Art Gallery dan Raysha Management Team mengadakan pameran seni amal Dare to be Great, Dare to Collaborate, and Dare to Love di Jakarta pada 4 – 30 April 2023. Pameran yang melibatkan lima seniman penyandang autisme ini diadakan untuk merayakan Hari Peduli Autisme Sedunia pada 2 April 2023.

Prita Kemal Gani, Founder London School Center for Autism Awareness, berharap pameran ini dapat meningkatkan awareness dan membuat individu dengan kondisi autis berani tampil dengan karya yang dibuat. “Jadi, lukisan itu tidak harus selalu bagus, tidak harus selalu sempurna. Namun, mereka bisa melukis saja, dipamerkan, bisa terlihat gambarnya, itu adalah sesuatu,” katanya, Senin (3/4/2023).

Baca juga: Pameran New Obsolescence: ADITYAVOVALI, Menjahit Kekaburan Memori Menjadi Imaji 

Dia menuturkan, tidak mudah bagi individu yang memiliki autisme untuk melakukan sesuatu lantaran mereka kerap memiliki kendala, seperti motorik dan sensorik. Tidak jarang mereka mengalami kesulitan untuk meletakkan tangan di atas meja. Tidak hanya itu, mereka juga kerap memiliki kendala konsentrasi ketika membuat suatu karya.

Selain itu, pameran ini juga menunjukkan bahwa seseorang dengan kondisi spesial ini bisa menghasilkan sesuatu, terlebih bisa disumbangkan buat membantu orang lain. Dengan begitu, maka kehidupan mereka bermanfaat bagi orang lain. “Mereka yang tidak bisa kerja kantoran, tapi bisa menolong orang,” katanya.

Menurutnya, hasil penjualan karya yang ada di pameran seni ini sebagian akan disumbangkan untuk biaya terapi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera, sehingga mereka bisa menjalani terapi secara berkelanjutan. Dari karya yang terjual, sebesar 20 persen untuk galeri, 30 persen untuk Rumah Autis, dan sisanya atau  50 persen untuk seniman.

Dia menuturkan, pameran yang berlangsung di Fairmont Hotel ini menampilkan lebih dari 40 karya dari seniman Raysha Dinar Kemal Gani, Dwi Putro Mulyono Jati, Kezia Kuryakin Sibuea, Shan Rafael Saputra, dan Owen Phillip Widjajakusuma.

Peserta Pameran

Seniman yang ikut serta dalam pameran ini seperti seperti Owen dan Keiza adalah murid London Scholl Beyond Academy (LSBA), yakni sebuah lembaga yang dibentuk untuk anak berkebutuhan khusus dengan menggali potensinya.

Sementara itu, seniman Dwi Putro Mulyono Jati atau yang akrab disapa Pak Wi menjadi bagian lantaran perkenalannya dengan Ignatius Nawa Tunggal Trahutomo yang merupakan adik dari sang seniman.

Prita menuturkan, dirinya belajar banyak hal dari Pak Wi yang telah berusia 54 tahun dan tidak berbicara. Namun, dapat tenang, duduk, dan juga tidak merasa terganggu dengan kehadiran banyak orang.

Dia mengatakan, setiap pelukis yang ikut bagian dalam pameran ini memiliki talenta luar biasa meskipun mereka memiliki keterbatasan. Rafael sebagai contoh, mampu membuat lukisan dengan detail, sehingga diajak bekerja sama untuk melukis salah satu merek premium. Sementara itu, Pak Wi adalah pelukis yang sudah pernah diundang ke Jepang terkait dengan karya-karya yang dibuatnya.

Dia menambahkan, sejumlah karya telah diminati oleh para pencinta seni. Dari 20 lukisan Raysha yang dibawa ke dalam pameran, sebanyak 10 di antaranya sudah dipesan. “Saya tidak mau orang membeli karena kasihan. Harus suka dahulu,” katanya.

Selain Raysha, lukisan lain yang telah diinginkan oleh kolektor adalah lukisan Pak Wi berjudul Srikandi dengan medium akrilik di atas kanvas berukuran 200 x 140 cm yang dibuat pada 2018. Lukisan ini terjual seharga Rp25 juta. Karya lainnya yang berjudul Yudistira/ Prabu Damakusuma (2018), medium akrilik di atas kanvas, 200 x 140 cm juga sudah dilirik.

Dia menuturkan, bagi seniman Raysha, pameran bersama dengan sejumlah seniman lainnya adalah yang pertama kali dilakukan. Sementara itu, sang seniman sudah pernah mengadakan pameran sebanyak tiga kali.

Raysha melukis sejak 2020 atau sekitar 3 tahun silam saat pandemi Covid-19 melanda. Dia yang biasanya melakukan aktivitas di luar ruangan harus di dalam rumah saja. Melukis menjadi kegiatan yang diperkenalkan kepadanya. Di pameran kali ini, sang seniman membawa karya dengan tema binatang.

“Ini lebih banyak binatang tahun ini, tahun lalu bikin pohon, kupu-kupu. Sekarang banyak binantang. Kalau lihat lebih dalam itu kelembutan, coba lihat mata dari binatang yang dia gambar, itu kita bisa melihat mata hati dia. Cara meletakan mata, matanya rata-rata friendly,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat Raysha pada tahun ini menggambar objek binatang. Pertama, arahan dari sang guru mengingat tahun ini adalah tahun kelinci. Kedua, sang kakak yang kebetulan baru memiliki kucing membuatnya sering berinteraksi dengan binatang tersebut, sehingga kerap menggambar kucing.

Director Sunrise Art Gallery, Jessica Senjaya mengatakan pameran amal ini untuk membuat awareness akan kebutuhan individual autis dan berkebutuhan khusus. Menurutnya, galeri mengadakan beberapa pameran amal setiap tahun untuk menumbuhkan bakat individu berkebutuhan khusus, yang menggunakan seni sebagai cara untuk mengekspresikan emosi dan kreativitas mereka selain terapi.

“Kami merasa penting untuk mendukug dan memberikan suara kepada individu-individu yang sering mengalami kesulitan dalam menyampaikan perasaan mereka dan memanfaatkan seni sebagai bentuk ekspresi diri,” katanya.

Sumber : https://hypeabis.id/read/23001/pameran-dare-to-be-great-dare-to-collaborate-and-dare-to-love-bukti-penyandang-autisme-dapat-berkarya