Sebanyak 46 lukisan karya lima perupa penyandang disabilitas ditampilkan dalam pameran amal bertajuk ”Dare to be Great, Dare to Collaborate, and Dare to Love”. Sebagian pendapatan dari pameran ini akan disumbangkan untuk membiayai terapi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera.

Pameran dibuka untuk publik pada 4-30 April 2023 di Sunrise Art Gallery, Hotel Fairmont, Jakarta. Ada lima perupa yang berpartisipasi, yaitu Raysha Dinar Kemal Gani, Dwi Putro Mulyono Jati, Kezia Kuryakin Sibuea, Shan Rafael, dan Owen Phillip Widjajakusuma. Dari lima perupa tersebut, empat di antaranya adalah perupa dengan autisme dan satu di antaranya perupa dengan skizofrenia residual.

Pendiri London School Center for Autism Awareness (SCAA), Prita Kemal Gani, mengatakan, pameran ini diperlukan untuk mengapresiasi karya mereka. Selain itu, pameran ini juga menunjukkan bahwa orang dengan autisme dapat berkontribusi ke masyarakat.

”Hasil (penjualan) lukisan ini untuk membiaya terapi anak-anak berkebutuhan khusus dari keluarga prasejahtera. Sebab, anak-anak dalam spektrum autisme mesti (terapi) secara berkelanjutan, tidak bisa separuh-separuh,” ucap Prita, di Jakarta, Senin (3/4/2023).

Donasi akan diberikan melalui Rumah Autis, lembaga yang memfasilitasi kebutuhan akan terapi dan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dari keluarga tak mampu. Adapun 30 persen penjualan pameran akan didonasikan, 50 persen lainnya diberikan kepada para pelukis, dan 20 persen sisanya ke pihak galeri.

Dari 46 lukisan yang ada, sekitar setengah di antaranya telah dipesan oleh pembeli potensial. Salah satu lukisan yang berjudul ”Srikandi” karya Dwi Putro disebut telah laku terjual dengan harga Rp 25 juta.

Pergelaran pameran ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik akan autisme. Hal tersebut sesuai dengan tujuan Hari Peduli Autisme Sedunia yang diperingati setiap 2 April. Sebagian masyarakat masih belum memahami autisme sebagai salah satu bentuk disabilitas tak terlihat. Ketidakpahaman ini dapat bermuara ke banyak hal, termasuk diskriminasi dan tak terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas.

Terapi

Bagi sebagian penyandang autisme, melukis adalah terapi bagi diri sendiri. Dengan melukis, mereka dapat belajar berkonsentrasi, menerima kegagalan, dan belajar tekun menjalani proses.

Prita mengatakan, Raysha sejak kecil didiagnosis mengalami autisme dalam spektrum parah. Raysha yang kini berusia 19 tahun mengalami masalah motorik, sensorik, kecemasan, hingga sulit berkonsentrasi. Orangtuanya lantas membawa Raysha ikut berbagai terapi, seperti menunggang kuda, berenang dengan lumba-lumba, bersepeda, dan berselancar di atas es. Sejak pandemi Covid-19, terapi luar ruangan itu beralih menjadi melukis.

”Dengan melukis, dia bisa lebih konsentrasi dan lebih tenang,” kata Prita yang juga ibu Raysha. ”Selama dua tahun melukis, dia ada perkembangan, tapi tipis. Namun, kami tetap optimistis,” ucapnya.

Suasana pembukaan pameran lukisan Charity Art Exhibition yang mengusung tema "Dare to be Great, Dare to Collaborate and Dare to Love" di Sunrise Art Gallery, Fairmont, Jakarta, Senin (3/4/2023). Pameran untuk memperingati Hari Autisme Sedunia tersebut menampilkan 46 karya perupa berkebutuhan khusus. Mereka adalah Raysha Dinar Kemal Gabi, Dwi Putro Mulyono Jati, Kezia Kuryakin Sibuea, Shan Rafael, dan Pihilip Widjajakusuma. Selain sebagai bentuk ekspresi seni, karya-karya yang dihasilkan juga menjadi bentuk kemandirian dan sarana berinteraksi para perupa dengan lingkungan sekitarnya. Pameran terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 30 April 2023.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Suasana pembukaan pameran lukisan Charity Art Exhibition yang mengusung tema “Dare to be Great, Dare to Collaborate and Dare to Love” di Sunrise Art Gallery, Fairmont, Jakarta, Senin (3/4/2023). Pameran untuk memperingati Hari Autisme Sedunia tersebut menampilkan 46 karya perupa berkebutuhan khusus. Mereka adalah Raysha Dinar Kemal Gabi, Dwi Putro Mulyono Jati, Kezia Kuryakin Sibuea, Shan Rafael, dan Pihilip Widjajakusuma. Selain sebagai bentuk ekspresi seni, karya-karya yang dihasilkan juga menjadi bentuk kemandirian dan sarana berinteraksi para perupa dengan lingkungan sekitarnya. Pameran terbuka untuk umum dan berlangsung hingga 30 April 2023.

Menurut Dwi Ayu Kartika Pawidya, guru menggambar para perupa, mereka dibimbing agar fokus pada proses membuat karya seni, bukan sekadar pada hasil. Ini karena proses seni dinilai mirip dengan proses kehidupan yang diisi dengan kegagalan, upaya untuk bangkit, serta perjuangan mencapai keberhasilan. Secara tidak langsung, ketahanan mental mereka dilatih.

Ia menambahkan, proses seni juga melatih orang dengan autisme untuk terbiasa pada proses dan sistem ketika mengerjakan sesuatu. Pelajaran ini pada akhirnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

”Yang menemukan art sebagai terapi mulanya adalah pelukis. Awalnya, ini diperuntukkan bagi orang-orang yang dirawat di rumah sakit jiwa. Terapi, kan, melatih diri untuk bergelut, untuk healing. Sembuh itu perjalanan, proses, sementara berkarya seni juga butuh proses,” tutur Dwi.

Dwi Putro Mulyono Jati berada di depan karyanya saat berpartisipasi dalam pameran lukisan Charity Art Exhibition yang mengusung tema "Dare to be Great, Dare to Collaborate and Dare to Love" di Sunrise Art Gallery, Fairmont, Jakarta, Senin (3/4/2023).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Dwi Putro Mulyono Jati berada di depan karyanya saat berpartisipasi dalam pameran lukisan Charity Art Exhibition yang mengusung tema “Dare to be Great, Dare to Collaborate and Dare to Love” di Sunrise Art Gallery, Fairmont, Jakarta, Senin (3/4/2023).

Sementara itu, Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia berpendapat bahwa orang dengan autisme terdapat berbagai kelebihan dan potensi. Untuk menggali potensi tersebut, keterampilan para penyandang autisme perlu dipetakan terlebih dulu. Hal ini butuh dukungan dari keluarga dan masyarakat.

”(Mengembangkan bakat penyandang autisme) agar disesuaikan dengan diri mereka. Tidak bisa disamaratakan karena masing-masing punya kemampuan dan bakat sendiri. Makanya, orangtua agar bisa melihat potensi mereka dan jangan membandingkan anak satu dengan lainnya,” kata Angkie yang juga penyandang disabilitas.

sumber : https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/04/03/galang-dana-untuk-anak-berkebutuhan-khusus