Jakarta, 4 September 2026 – Kehidupan mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Di luar kegiatan akademik, organisasi mahasiswa menjadi salah satu ruang yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar, berproses, dan mengembangkan berbagai kemampuan melalui pengalaman secara langsung.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam KASTA-LOUGE: F.I.R.M. (Forum Isu, Remedi & Mahasiswa) Episode 3 yang diselenggarakan oleh Departemen Kajian Strategis BEM LSPR. Episode kali ini dipandu oleh Mahdy Ari Sadhono sebagai host dan menghadirkan Dr. Mikhael Yulius Cobis, M.Si., M.M., atau yang lebih akrab disapa  Sir Mikha, selaku dosen LSPR Institute sekaligus Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan & Alumni Relations. 

Ketika membicarakan organisasi mahasiswa, pembahasannya tidak berhenti pada struktur kepengurusan maupun banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Organisasi idealnya menjadi tempat bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai dan pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan.

Sumber : Dokumentasi Pribadi Departemen Kajian Strategis BEM LSPR

Sir Mikha menjelaskan bahwa organisasi mahasiswa seharusnya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman praktis. “Organisasi mahasiswa yang ideal satu tempat di mana para mahasiswa bisa melakukan praktik dan juga mengimplementasikan nilai-nilai yang mereka dapatkan.” Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan yang berguna di luar lingkungan kampus, salah satunya kepemimpinan yang dapat diasah melalui tanggung jawab dan peran dalam organisasi.

Menurut Sir Mikha, organisasi mahasiswa juga tidak seharusnya hanya berorientasi pada pelaksanaan acara. “Organisasi mahasiswa bukan hanya tempat membuat event saja, tapi bagaimana mereka bisa melakukan yang sifatnya praktikal.” Rapat, pembagian tugas, pengambilan keputusan, hingga menghadapi perbedaan pendapat dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Program kerja yang dijalankan pun perlu memiliki tujuan dan manfaat yang jelas. “Contohnya, dari sisi kepemimpinan dan bagaimana menciptakan program kerja yang berdampak positif,” ujar Sir Mikha.

Di tengah berbagai potensi tersebut, organisasi mahasiswa juga menghadapi realitas yang tidak dapat diabaikan. Minat mahasiswa terhadap organisasi menjadi salah satu hal yang terus diperbincangkan. Tidak sedikit yang melihat organisasi semakin sepi peminat, sementara beberapa program kerja cenderung melanjutkan kegiatan dari periode sebelumnya.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana organisasi mahasiswa dapat tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini. Inovasi menjadi hal penting agar organisasi tidak hanya menjalankan rutinitas tahunan, tetapi mampu menghadirkan pengalaman yang bermanfaat bagi anggotanya.

Perkembangan organisasi juga tidak dapat dilepaskan dari dukungan universitas. Ruang yang diberikan kepada organisasi mahasiswa untuk berkembang dan berinovasi menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem kemahasiswaan yang aktif dan relevan.

Sumber : Dokumentasi Pribadi Departemen Kajian Strategis BEM LSPR

Tidak hanya membahas kehidupan organisasi, KASTA-LOUGE: F.I.R.M. Episode 3 turut mengangkat persoalan yang lebih luas dalam lingkungan perguruan tinggi, yaitu yang disebut sebagai “dosa besar perguruan tinggi”, yang meliputi intoleransi, kekerasan seksual, perundungan, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba.

Dalam konteks tersebut, Sir Mikha menegaskan bahwa lingkungan kampus perlu memiliki komitmen yang kuat dalam mencegah berbagai bentuk pelanggaran. Hal ini juga berkaitan dengan nilai-nilai yang ditanamkan kepada mahasiswa selama berada di lingkungan perguruan tinggi. “Di LSPR zero tolerance terkait dosa-dosa di perguruan tinggi, karena mengajarkan empati, etika, profesionalisme, diversity, dan nilai-nilai yang harus diterapkan di kampus.”

Penerapan nilai tersebut tidak cukup hanya melalui aturan, tetapi juga perlu disertai dengan edukasi kepada mahasiswa. Menurut Sir Mikha, pemahaman mengenai isu-isu tersebut perlu terus diberikan agar mahasiswa mengetahui bentuk pelanggaran serta pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan positif. “Melakukan edukasi kepada seluruh mahasiswa melalui seminar, workshop, pemberian informasi.”

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pencegahan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan perguruan tinggi yang aman dan nyaman. Dengan adanya edukasi yang berkelanjutan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami aturan, tetapi juga mampu menerapkan nilai empati, etika, profesionalisme, dan keberagaman dalam kehidupan kampus.

Pada akhirnya, pembahasan mengenai organisasi mahasiswa dan dosa besar perguruan tinggi membawa mahasiswa pada satu hal penting: setiap individu memiliki peran dalam membentuk lingkungan kampus. Organisasi dapat menjadi ruang untuk belajar kepemimpinan, bekerja sama, menghadapi konflik, serta menghasilkan program yang memberikan dampak. Di saat yang sama, mahasiswa juga perlu memiliki kepedulian terhadap berbagai persoalan di lingkungan perguruan tinggi.

Melalui Episode 3, KASTA-LOUGE: F.I.R.M. mengajak mahasiswa untuk melihat organisasi bukan hanya sebagai tempat berkegiatan, tetapi sebagai ruang untuk bertumbuh dan menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari. Organisasi yang baik bukan sekadar tentang seberapa banyak acara yang diselenggarakan, melainkan tentang seberapa jauh proses di dalamnya mampu memberikan pengalaman dan menghasilkan dampak positif.

Departemen Kajian Strategis BEM LSPR berharap mahasiswa dapat melihat pentingnya organisasi yang tidak hanya aktif secara kegiatan, tetapi juga mampu memberikan ruang pembelajaran dan dampak nyata. Lebih jauh, mahasiswa diharapkan dapat ikut berperan dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman, positif, dan bertanggung jawab.