Jakarta, 30 April 2026 – Departemen Kajian Strategis BEM LSPR melalui program KASTA-LOUGE: F.I.R.M. (Forum, Isu, Remedi & Mahasiswa) menghadirkan episode perdana dengan tema “Mahasiswa & Keberanian Berpendapat”. Program ini dirancang sebagai wadah diskusi berbasis digital yang membahas dan mengangkat berbagai isu relevan dalam kehidupan mahasiswa, dengan pendekatan yang komunikatif, kritis, dan reflektif. 

Dalam sesi ini, salah satu isu utama yang diangkat adalah “rasa takut saat berpendapat”. Banyak mahasiswa yang masih ragu untuk menyampaikan opini, karena takut dinilai tidak tepat atau kurang relevan. Padahal, dalam lingkungan akademik, kesalahan merupakan bagian dari proses belajar yang justru membantu membangun pemahaman yang lebih baik. 

Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Ketua BEM LSPR, Sheidy Christy Taju, bahwa “Bukan pendapat siapa yang paling bagus, paling sempurna, yang paling oke, tapi tentang bagaimana mereka bisa menyampaikan perspektif mereka”. 

Selain itu, pembahasan juga menyoroti budaya senioritas dalam lingkungan kampus. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan senioritas terkadang mempengaruhi keberanian mahasiswa, terutama junior dalam menyampaikan pendapat. Hal ini menciptakan batasan tidak tertulis yang membuat diskusi menjadi kurang setara dan terbuka.

Topik berikutnya adalah mengenai perbedaan antara diskusi terbuka dan diskusi yang hanya bersifat formalitas. Diskusi yang ideal seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan yang aktif, namun dalam praktiknya sering kali hanya dijalankan sebagai kewajiban tanpa interaksi yang mendalam. Akibatnya, tujuan diskusi sebagai sarana pengembangan pemikiran kritis menjadi tidak tercapai secara maksimal. 

Tidak kalah penting, sesi ini juga membahas bagaimana kritik dapat disampaikan sebagai masukan yang konstruktif. Kritik seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian dan upaya perbaikan, bukan sebagai serangan pribadi. Dengan cara penyampaian yang tepat, kritik justru dapat memperkaya sudut pandang dan meningkatkan kualitas diskusi. 

Wakil Ketua BEM LSPR, Arlan Fernando Hasibuan, turut menekankan pentingnya keberanian mahasiswa dalam mencoba dan menyampaikan pendapat. Ia menyampaikan, “Berani dulu aja, karena saat kita tidak mencoba atau tidak melakukan sesuatu tuh sama saja kita ngestuck di situ-situ aja. Kita tidak bakal berkembang, kita nggak bakal tahu sungai itu sedalam apa kalau kita tidak nyebrangin itu”. 

Sumber : Dokumentasi Pribadi Departemen Kajian Strategis BEM LSPR 

Melalui episode ini, Departemen Kajian Strategis BEM LSPR ingin mendorong mahasiswa untuk lebih berani dalam meyampaikan pendapat, sekaligus membangun budaya diskusi yang sehat, inklusif, dan bertanggung jawab. Diskusi tidak lagi dipandang sebagai formalitas,

tetapi sebagai ruang nyata untuk bertukar ide, berpikir kritis, dan menemukan solusi bersama. Keberanian berpendapat bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang kesiapan untuk mendengarkan, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab setiap pernyataan yang telah disampaikan.