

Jakarta, 25 Juli 2026 – Tidak semua anak tahu bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Banyak juga yang belum tahu kepada siapa mereka bisa bercerita ketika menghadapi situasi yang membuat mereka takut. Di sisi lain, tidak sedikit orang tua yang masih merasa bingung bagaimana memulai percakapan tentang batasan tubuh dengan anak.

Berangkat dari kenyataan tersebut, mahasiswa Marketing Communication LSPR Institute of Communication and Business menghadirkan Berani Lindungi, sebuah kampanye edukasi yang mengajak anak dan orang tua di kawasan Jatinegara belajar bersama mengenai batasan tubuh. Kampanye sosial ini mengangkat SDG’s 4 Quality Education melalui tema “Kenali Tubuhmu, Lindungi Dirimu”. Berani Lindungi ingin menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak dimulai ketika sesuatu yang buruk sudah terjadi, tetapi dari pengetahuan, komunikasi, dan keberanian untuk saling mendengarkan.
Berkolaborasi dengan Komunitas Gumul Juang (KGJ), Berani Lindungi menghadirkan rangkaian kegiatan yang dirancang agar materi yang cukup sensitif ini tetap dapat dipahami dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan usia anak. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional bersama anak-anak Komunitas Gumul Juang. Anak-anak akan mengikuti sesi belajar melalui mini teater, permainan interaktif, serta berbagai aktivitas yang membantu mereka mengenali batasan tubuh dan memahami langkah “Kenali, Tolak, Cerita”. Sementara itu, orang tua akan mengikuti sesi diskusi bersama psikolog mengenai cara membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Menurut Bintang Zuama Maulidin, Ketua Pelaksana Berani Lindungi, masih banyak orang menganggap pembahasan mengenai batasan tubuh sebagai hal yang tabu. Padahal, ketika anak memahami batasan tubuhnya sejak dini, mereka memiliki bekal untuk mengenali situasi yang tidak aman dan lebih berani mencari bantuan. “Kami berharap Berani Lindungi bisa menjadi langkah kecil yang membawa perubahan. Kami ingin anak-anak pulang dengan pengetahuan baru tentang cara melindungi dirinya, sementara orang tua pulang dengan pemahaman bahwa komunikasi yang terbuka adalah salah satu bentuk perlindungan terbaik bagi anak.” ujar Bintang, Ketua Pelaksana Berani Lindungi.
Selain sesi edukasi, setiap peserta juga akan mendapatkan Safety Kit yang dapat digunakan kembali di rumah sebagai media belajar bersama keluarga. Dengan begitu, pembelajaran tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi dapat terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Berani Lindungi merupakan proyek kolaborasi dari empat mata kuliah Komunikasi Pemasaran, yaitu “Social Marketing”, “Community Development”, “Digital Marketing”, “Creative Content in Marketing”,













